Muhammad Martin
Ahli Dzikir, Ahli Fikir, Ahli Ikhtiar

Nov
28

[gontorians] Undangan SILATNAS 2008 (29 November 2008)
Rabu, 26 November, 2008 14:29
Dari:
“IKPM JAKARTA” <ikpm.jakarta@gmail.com>
Kepada:
gontorians@yahoogroups.com

Kepada Yth.
Segenap Alumni Gontor Putra/Putri &
Keluarga Besar Pondok Modern Gontor

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan hormat,

Mengundang segenap Alumni Gontor Putra/Putri & Keluarga Besar Pondok Modern Gontor dalam Silaturahim Nasional Keluarga Besar Pondok Modern Gontor pada :

Hari / Tanggal : Sabtu, 29 November 2008
Waktu : Pkl. 08.30-16.30 wib
Tempat : Cendrawasih Room

JCC-Senayan, Jakarta

Acara :

1. Pelantikan pengurus IKPM DKI Jakarta 08-11

2. Dialog dan Temu Kangen Alumni Gontor

3. Sarasehan bersama Departemen / Kementerian RI

4. Silaturahim bersama Presiden RI

5. Bazar Produk Almuni Gontor

6. Lomba Pidato dan Cerita (Bhs Arab & Inggris)

Demikian undangan ini kami sampaikan. Atas perhatian dan dukungan segenap Keluarga Besar Pondok Modern Gontor kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Jazakumullah khairan katsiran.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Ketua Umum IKPM DKI Jakarta

Nov
27

Secara fitrah, menikah akan memberikan ketenangan (ithmi’nân/thuma’nînah) bagi setiap manusia, asalkan pernikahannya dilakukan sesuai dengan aturan Allah Swt., Zat Yang mencurahkan cinta dan kasih-sayang kepada manusia.

Hampir setiap Mukmin mempunyai harapan yang sama tentang keluarganya, yaitu ingin bahagia; sakînah mawaddah warahmah. Namun, sebagian orang menganggap bahwa menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta langgeng adalah hal yang tidak gampang. Fakta-fakta buruk kehidupan rumahtangga yang terjadi di masyarakat seolah makin mengokohkan asumsi sulitnya menjalani kehidupan rumahtangga. Bahkan, tidak jarang, sebagian orang menjadi enggan menikah atau menunda-nunda pernikahannya.

Menikahlah, Karena Itu Ibadah

Sesungguhnya menikah itu bukanlah sesuatu yang menakutkan, hanya memerlukan perhitungan cermat dan persiapan matang saja, agar tidak menimbulkan penyesalan. Sebagai risalah yang syâmil (menyeluruh) dan kâmil (sempurna), Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan pernikahan yang harus dipahami oleh kaum Muslim. Tujuannya adalah agar pernikahan itu berkah dan bernilai ibadah serta benar-benar memberikan ketenangan bagi suami-istri. Dengan itu akan terwujud keluarga yang bahagia dan langgeng. Hal ini bisa diraih jika pernikahan itu dibangun atas dasar pemahaman Islam yang benar.

Menikah hendaknya diniatkan untuk mengikuti sunnah Rasullullah saw., melanjutkan keturunan, dan menjaga kehormatan. Menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah, meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan. Pernikahan merupakan sarana dakwah suami terhadap istri atau sebaliknya, juga dakwah terhadap keluarga keduanya, karena pernikahan berarti pula mempertautkan hubungan dua keluarga. Dengan begitu, jaringan persaudaraan dan kekerabatan pun semakin luas. Ini berarti, sarana dakwah juga bertambah. Pada skala yang lebih luas, pernikahan islami yang sukses tentu akan menjadi pilar penopang dan pengokoh perjuangan dakwah Islam, sekaligus tempat bersemainya kader-kader perjuangan dakwah masa depan.

Inilah tujuan pernikahan yang seharusnya menjadi pijakan setiap Muslim saat akan menikah. Karena itu, siapa pun yang akan menikah hendaknya betul-betul mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk meraih tujuan pernikahan seperti yang telah digariskan Islam. Setidaknya, setiap Muslim, laki-laki dan perempuan, harus memahami konsep-konsep pernikahan islami seperti: aturan Islam tentang posisi dan peran suami dan istri dalam keluarga, hak dan kewajiban suami-istri, serta kewajiban orangtua dan hak-hak anak; hukum seputar kehamilan, nasab, penyusuan, pengasuhan anak, serta pendidikan anak dalam Islam; ketentuan Islam tentang peran Muslimah sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga, juga perannya sebagai bagian dari umat Islam secara keseluruhan, serta bagaimana jika kewajiban-kewajiban itu berbenturan pada saat yang sama; hukum seputar nafkah, waris, talak (cerai), rujuk, gugat cerai, hubungan dengan orangtua dan mertua, dan sebagainya. Semua itu membutuhkan penguasaan hukum-hukum Islam secara menyeluruh oleh pasangan yang akan menikah. Artinya, menikah itu harus didasarkan pada ilmu.

Jdilah Sahabat yang Menyenangkan

Pernikahan pada dasarnya merupakan akad antara laki-laki dan perempuan untuk membangun rumahtangga sebagai suami-istri sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sesungguhnya kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah kehidupan persahabatan. Suami adalah sahabat karib bagi istrinya, begitu pula sebaliknya. Keduanya benar-benar seperti dua sahabat karib yang siap berbagi suka dan duka bersama dalam menjalani kehidupan pernikahan mereka demi meraih tujuan yang diridhai Allah Swt. Istri bukanlah sekadar patner kerja bagi suami, apalagi bawahan atau pegawai yang bekerja pada suami. Istri adalah sahabat, belahan jiwa, dan tempat curahan hati suaminya.

Islam telah menjadikan istri sebagai tempat yang penuh ketenteraman bagi suaminya. Allah Swt. berfirman:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (QS ar-Rum [30]: 21).

Maka dari itu, sudah selayaknya suami akan merasa tenteram dan damai jika ada di sisi istrinya, demikian pula sebaliknya. Suami akan selalu cenderung dan ingin berdekatan dengan istrinya. Di sisi istrinya, suami akan selalu mendapat semangat baru untuk terus menapaki jalan dakwah, demikian pula sebaliknya. Keduanya akan saling tertarik dan cenderung kepada pasangannya, bukan saling menjauh. Keduanya akan saling menasihati, bukan mencela; saling menguatkan, bukan melemahkan; saling membantu, bukan bersaing. Keduanya pun selalu siap berproses bersama meningkatkan kualitas ketakwaannya demi meraih kemulian di sisi-Nya. Mereka berdua berharap, Allah Swt. berkenan mengumpulkan keduanya di surga kelak. Ini berarti, tabiat asli kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah ithmi’nân/tuma’ninah (ketenangan dan ketentraman). Walhasil, kehidupan pernikahan yang ideal adalah terjalinnya kehidupan persahabatan antara suami dan istri yang mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi keduanya.

Untuk menjamin teraihnya ketengan dan ketenteraman tersebut, Islam telah menetapkan serangkaian aturan tentang hak dan kewajiban suami-istri. Jika seluruh hak dan kewajiban itu dijalankan secara benar, terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah adalah suatu keniscayaan.

Bersabar atas Kekurangan Pasangan

Kerap terjadi, kenyataan hidup tidak seindah harapan. Begitu pula dengan kehidupan rumahtangga, tidak selamanya berlangsung tenang. Adakalanya kehidupan suami-istri itu dihadapkan pada berbagai problem baik kecil ataupun besar, yang bisa mengusik ketenangan keluarga. Penyebabnya sangat beragam; bisa karena kurangnya komunikasi antara suami-istri, suami kurang makruf terhadap istri, atau suami kurang perhatian kepada istri dan anak-anak; istri yang kurang pandai dan kurang kreatif menjalankan fungsinya sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga; karena adanya kesalahpahaman dengan mertua; atau suami yang ‘kurang serius’ atau ‘kurang ulet’ mencari nafkah. Penyebab lainnya adalah karena tingkat pemahaman agama yang tidak seimbang antara suami-istri; tidak jarang pula karena dipicu oleh suami atau istri yang selingkuh, dan lain-lain.

Sesungguhnya Islam tidak menafikan adanya kemungkinan terusiknya ketenteraman dalam kehidupan rumahtangga. Sebab, secara alami, setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti dihadapkan pada berbagai persoalan. Hanya saja, seorang Muslim yang kokoh imannya akan senantiasa yakin bahwa Islam pasti mampu memecahkan semua problem kehidupannya. Oleh karena itu, dia akan senantiasa siap menghadapi problem tersebut, dengan menyempurnakan ikhtiar untuk mencari solusinya dari Islam, seiring dengan doa-doanya kepada Allah Swt. Sembari berharap, Allah memudahkan penyelesaian segala urusannya.

Keluarga yang sakinah mawaddah warahmah bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah. Yang dimaksud adalah keluarga yang dibangun atas landasan Islam, dengan suami-istri sama-sama menyadari bahwa mereka menikah adalah untuk ibadah dan untuk menjadi pilar yang mengokohkan perjuangan Islam. Mereka siap menghadapi masalah apapun yang menimpa rumahtangga mereka. Sebab, mereka tahu jalan keluar apa yang harus ditempuh dengan bimbingan Islam.

Islam telah mengajarkan bahwa manusia bukanlah malaikat yang selalu taat kepada Allah, tidak pula ma‘shûm (terpelihara dari berbuat maksiat) seperti halnya para nabi dan para rasul. Manusia adalah hamba Allah yang memiliki peluang untuk melakukan kesalahan dan menjadi tempat berkumpulnya banyak kekurangan. Pasangan kita (suami atau istri) pun demikian, memiliki banyak kekurangan. Karena itu, kadangkala apa yang dilakukan dan ditampakkan oleh pasangan kita tidak seperti gambaran ideal yang kita harapkan. Dalam kondisi demikian, maka sikap yang harus diambil adalah bersabar!

Sabar adalah salah satu penampakan akhlak yang mulia, yaitu wujud ketaatan hamba terhadap perintah dan larangan Allah Swt. Sabar adalah bagian hukum syariat yang diperintahkan oleh Islam. (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 153; QS az-Zumar [39]: 10).

Makna kesabaran yang dimaksudkan adalah kesabaran seorang Mukmin dalam rangka ketaatan kepada Allah; dalam menjalankan seluruh perintah-Nya; dalam upaya menjauhi seluruh larangan-Nya; serta dalam menghadapi ujian dan cobaan, termasuk pula saat kita dihadapkan pada ‘kekurangan’ pasangan (suami atau istri) kita.

Namun demikian, kesabaran dalam menghadapi ‘kekurangan’ pasangan kita harus dicermati dulu faktanya. Pertama: Jika kekurangan itu berkaitan dengan kemaksiatan yang mengindikasikan adanya pelalaian terhadap kewajiban atau justru melanggar larangan Allah Swt. Dalam hal ini, wujud kesabaran kita adalah dengan menasihatinya secara makruf serta mengingatkannya untuk tidak melalaikan kewajibannya dan agar segera meninggalkan larangan-Nya. Contoh pada suami: suami tidak berlaku makruf kepada istrinya, tidak menghargai istrinya, bukannya memuji tetapi justru suka mencela, tidak menafkahi istri dan anak-anaknya, enggan melaksanakan shalat fardhu, enggan menuntut ilmu, atau malas-malasan dalam berdakwah. Contoh pada istri: istri tidak taat pada suami, melalaikan pengasuhan anaknya, melalaikan tugasnya sebagai manajer rumahtangga (rabb al-bayt), sibuk berkarier, atau mengabaikan upaya menuntut ilmu dan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Sabar dalam hal ini tidak cukup dengan berdiam diri saja atau nrimo dengan apa yang dilakukan oleh pasangan kita, tetapi harus ada upaya maksimal menasihatinya dan mendakwahinya. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, kita senantiasa mendoakan pasangan kita kepada Allah Swt.

Kedua: Jika kekurangan itu berkaitan dengan hal-hal yang mubah maka hendaknya dikomunikasikan secara makruf di antara suami-istri. Contoh: suami tidak terlalu romantis bahkan cenderung cuwek; miskin akan pujian terhadap istri, padahal sang istri mengharapkan itu; istri kurang pandai menata rumah, walaupun sudah berusaha maksimal tetapi tetap saja kurang estetikanya, sementara sang suami adalah orang yang apik dan rapi; istri kurang bisa memasak walaupun dia sudah berupaya maksimal menghasilkan yang terbaik; suami “cara bicaranya” kurang lembut dan cenderung bernada instruksi sehingga kerap menyinggung perasaan istri; istri tidak bisa berdandan untuk suami, model rambutnya kurang bagus, hasil cucian dan setrikaannya kurang rapi; dan sebagainya. Dalam hal ini kita dituntut bersabar untuk mengkomunikasikannya, memberikan masukan, serta mencari jalan keluar bersama pasangan kita. Jika upaya sudah maksimal tetapi belum juga ada perubahan, maka terimalah itu dengan lapang dada seraya terus mendoakannya kepada Allah Swt. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 19). Rasulullah saw. bersabda:

Janganlah seorang suami membenci istrinya. Jika dia tidak menyukai satu perangainya maka dia akan menyenangi perangainya yang lain. (HR Muslim).

Inilah tuntunan Islam yang harus dipahami oleh setiap Mukmin yang ingin rumahtangganya diliputi dengan kebahagiaan, cinta kasih, ketenteraman, dan langgeng. Wallâhu a‘lam bi ash-shawab. (Nurul Husna, Aktivis Hizbut Tahrir, Ibu Rumah Tangga)

Nov
27

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Janganlah seorang di antara kamu mengharapkan kematian dan jangan pula memohonnya sebelum kematian itu datang menjemputnya. Sesungguhnya apabila seorang di antara kamu meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya dan sesungguhnya usia seorang mukmin itu akan menambah kebajikan (bagi dirinya). (Shahih Muslim No.4843)

Di usia yang hampir delapan puluh lima tahun Pak Rangkuti mengalami sedikit depresi karena maut belum juga datang menyapa sedangkan penyakit telah bertamu beberapa kali, ” itulah resiko menjadi tua, gravitasi bumi semakin terasa” selorohnya ketika selesai sholat maghrib di masjid. Walaupun ketika masih kecil anaknya sering di gendong dibelai dan disayang namun saat ini beliau malu terus-terusan merepotkan mereka, dan hal ini mungkin juga dirasakan oleh para lansia di seluruh dunia apalagi yang keluarganya hidup dalam kesederhanaan.

Dibalik setiap harapan selalu tersembunyi sebuah resiko menyertai, dan sewaktu kita berdoa di panjangkan umur agar bisa lebih banyak beribadah maka mungkin resiko itulah sebenarnya ibadah yang mesti kita jalani disamping ibadah ritual yang sudah ada. Confusius pernah berkata ” Banyak orang yang mengukur umurnya dari hari dan tahun, ada yang mengukurnya dari canda dan derai airmata, ada yang mengukurnya lewat detak jantung yang tiada henti tetapi ukuran sejati adalah dari amal perbuatan yang telah kita kita lakukan bagi orang lain”

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)

Salam

Nov
27

Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia
sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat
jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda
jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak.
Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak peraturan.

Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan
turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan
kesedihan hatinya. “Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti
ini.” Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga
sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini.”

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di
ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus
kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. “Gadis kecil
yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik
pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu
berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas
gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang
terdengar sekali oleh Al-Bashri.

“Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap
gulita
tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu
untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih
kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku
masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah?
Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam?
Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain
agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya
untukmu semalam, Ayah?”

“Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti
engkau semalam, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah
yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku
menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam
Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang
menyuapimu semalam, Ayah? Kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan
untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu? “

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan
tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut
kata-kata gadis kecil itu.
“Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah,
“Ayah,
kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah
berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan
kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam
kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah
telah menyantapmu, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang
menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah?
Apakah engkau
bisa mempertanggungjawab kan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?”

“Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan
kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari
mana, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju
neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang
menghimpitnya
sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi,
Ayah?”

“Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak
memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan
maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal
baikmu yang sedikit, Ayah?”

“Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas
gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?”

“Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari
kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku
di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, “Betapa
indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima.
Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka
pulang sembari berderai tangis.

Maraji’: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah (Al-Islam)

Nov
27

Malam itu saya kedatangan seorang ibu. Ibu itu bertutur dengan air
mata yang sudah tak terbendung lagi. Dia menceritakan bahwa dirinya
pernah memiliki dua anak laki-laki yang ditinggal bapaknya waktu masih
bayi. Anak-anaknya tumbuh dengan kondisi memprihatinkan dan nakalnya
luar biasa.

“Sampai satu hari mas” kata sang ibu dengan bercucuran air mata. “Saya
membawa kedua anak itu kekuburan bapaknya dan saya katakan, Pak. Nih
urus anak-anakmu. Aku sudah tidak sanggup lagi.” Kata sang ibu.
Seminggu kemudian dua anaknya meninggal dunia karena sakit.

“Ya Alloh, Ya Robbi” tak terasa kata-kata itu terucap. Kisah itu
terasa menyayat dihati. Seolah mengiris lubuk hati yang paling dalam,
membayangkan betapa berat beban seorang ibu yang mengurus dua anak
yatim sampai pada satu titik ketidaksanggupan.


“Adapun terhadap anak-anak yatim maka janganlah kamu bersikap kasar
terhadapnya dan adapun orang yang meminta-minta maka janganlah engkau
usir dan adapun nikmat Tuhanmu hendaklah engkau sebutkan sebagai
perwujudan syukur. (Surah Adh Dhuha Ayat 9-11).

Nov
27

Why do we read Quraan, even if we can ‘ t understand a single Arabic
word ?

Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti satupun
artinya ?

This is a beautiful story :

Ini suatu cerita yang indah :

An old American Muslim lived on a farm in the mount ai ns of eastern
Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early
sitting at the kitchen table reading his Quran.

Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di
suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu
lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan
membaca Quran di meja makan di dapurnya.

His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in
every way he could. One day the grandson asked, “Grandpa! I try to
read the Qur ‘ an just like you but I don ‘ t understand it, and what
I do understand I forget as soon as I close the book. What good does
reading the Qur ‘ an do?”

Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba
untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya
bertanya, ” Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur ‘ An seperti yang
kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku
lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih keb ai kan dari membaca Qur
‘ An?

The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and
replied, “Take this coal basket down to the river and bring me back a
basket of water.”

Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di tungku pemanas
sambil berkata , ” Bawa keranjang batubara ini ke sung ai dan bawa
kemari lagi penuhi dengan ai r.”

The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got
back to the house.

Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi
semua ai r habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

The grandfather laughed and s ai d, “You ‘ ll have to move a little
faster next time,” and sent him back to the river with the basket to
try ag ai n. This time the boy ran faster, but ag ai n the bas ket was
empty before he returned home.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya
lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sung ai dengan
keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi
tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.

Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry
water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man s
ai d, “I don ‘ t want a bucket of water; I want a basket of water.

Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil
membawa ai r dari sung ai dengan keranjang yang sudah bolong , maka
sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.

Sang kakek berkata, ” Aku tidak mau satu ember air ; aku hanya mau
satu keranjang air.

You ‘ re just not trying hard enough,” and he went out the door to
watch the boy try ag ai n. At this point, the boy knew it was
impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran
as fast as he could, the water would Leak out before he got back to
the house.

Ayolah, usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu
untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali
bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek
nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, ai r tetap akan
bocor keluar sebelum ia samp ai ke rumah.

The boy ag ai n dipped the basket into river and ran hard, but when he
reached his grandfather the basket was ag ai n empty. Out of breathe,
he s ai d, “See Grandpa, it ‘ s useless!” “So you think it is useless?”

Sekali lagi sang cucu mengambil ai r ke dalam sung ai dan berlari
sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia samp ai didepan
kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, “
Lihat Kek, percuma!” ” Jadi kamu pikir percuma?”

The old man s ai d, “Look at the basket.” The boy looked at the basket
and for the first time realized that the basket was different. It had
been transformed from a dirty old coal basket and was now clean,
inside and out.

Kakek berkata, ” Lihatlah keranjangnya. ” Sang cucu menurut, melihat
ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa
keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari
keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. “

“Son, that ‘ s what happens when you read the Qur ‘ an. You mi ght
not understand or remember everything, but when you read it, you will
be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives.


“Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur ‘ An. Kamu
tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca
nya lagi, kamu akan berubah, didalam dan diluar dirimu .

Sabda Nabi Muhammad( SAW) :
” Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan mendapat ganjaranya
yang sama “

Nov
27

Jemaah haji Indonesia yang
berangkat dalam gelombang I kini tengah berada di Madinah Al Munawarah.
Mereka berada di sana selama 8-9 hari lamanya. Berbagai
aktifitas ibadah mereka lakukan di sana.
Mulai dari shalat fardhu yang lima
waktu, ibadah-ibadah sunnah, berziyarah ke makam Rasulullah Saw dan para
sahabat, dan melakukan Shalat Arbain. Apa itu Arbain? Arbain adalah sebuah
silsilah ibadah shalat fardhu yang dilakukan sebanyak 40 kali tanpa terputus
sekalipun. Sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw yang
berbunyi:

Dari Anas bin Malik yang
diriwayatkan secara marfu” bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang
shalat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali shalat tidak terlewat satu kali
pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari
adzab dan kemunafikan. ” (HR
Ahmad dan At-Thabrany)

Meski terdapat
perdebatan mengenai status hadits ini, namun yang perlu menjadi perhatian kita
semua adalah bagaimana hikmah terpenting yang dapat diambil dari pelajaran
Shalat Arbain bagi setiap jemaah haji yang melakukannya.

Rasulullah Saw pernah
bersabda bahwa shalat di masjid Nabawi pahalanya adalah 1000 kali lipat
dibanding shalat di tempat lain. Sebagaimana sabdanya:

Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali
dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di
Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya. (HR.
Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).

Hadits ini menjadi
stimulan dan motivasi bagi setiap muslim yang berada di Madinah untuk
memperbanyak ibadah di masjid Nabawi wa
bil khusus ibadah shalat baik fardhu maupun sunnah. Maka tak jarang demi
mempertahankan shalat berjamaah di Masjid Nabawi, terlihat banyak sekali jemaah
haji yang rela beri’tikaf di masjid berlama-lama hanya demi menunggu datangnya
waktu shalat berjamaah. Dari waktu shalat yang satu ke waktu yang lain mereka
semua menanti dengan penuh harap. Hal ini seperti yang digambarkan dalam hadits
Rasulullah Saw:

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bertanya,
‘Maukah kalian aku tunjukan amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat
mengangkat derajat (di surga)?”. Para Sahabat menjawab, ‘Tentu, wahai
Rasulullah.’ Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak disukai,
memperbanyak langkah ke mesjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat.
Itulah yang harus kalian utamakan.’” (HR. Muslim)

Spirit yang mereka
rasakan saat menjalankan ibadah Shalat Arbain di Masjid Nabawi adalah betapa
mereka merasa sayang apabila tertinggal shalat berjamaah meski hanya satu kali,
sebab hal itu akan membuat Arbain yang hendak mereka capai menjadi gugur.

Pernah suatu saat ada
seorang jemaah haji dari Indonesia
yang begitu sigap menghadiri shalat
berjamaah di Masjid Nabawi. Namun begitu terdengar iqamah berkumandang,
tiba-tiba ia merasakan perutnya tidak beres dan ia pun pergi ke toilet untuk
mengambil air wudhu lagi. Ia hanya tertinggal takbiratul ihram imam shalat, bukannya tertinggal shalat berjamaah.
Namun ia menyatakan penyesalannya sebab ia datang terlambat menghadiri shalat
berjamaah.

Begitu bersemangat dan
pantang menyerah mereka mempertahankan shalat berjamaah di masjid Nabawi. Dan
itulah gambaran kaum muslimin sejati yang sigap menjawab panggilan Allah Swt
saat adzan berkumandang.

Jemaah haji yang
tengah menjalani ibadah Shalat Arbain di Madinah tengah belajar menghilangkan
sifat kemunafikan dalam diri mereka dan menghadiri panggilan Allah Swt saat
adzan berkumandang. Hal itu seperti yang termaktub dalam hadits Shalat Arbain
di atas bahwa hikmah dari ibadah tersebut adalah membebaskan manusia dari sifat
munafik dan membebaskan mereka dari belenggu api neraka.

Hanya muslim yang
berpasrah diri kepada Allah yang ringan untuk menjawab pangggilan Allah Swt,
baik secara jiwa maupun harta. Maka ibadah shalat fardhu empat puluh waktu atau Arbain inilah yang melatih
mereka untuk menjadi hamba Allah yang tulen, yang terbebas dari kungkungan
dunia dan terbebas dari belenggu kemunafikan dirinya.

Semoga sekembalinya
para jemaah haji dari tanah suci, mereka akan terus diberi kekuatan untuk
menghadiri shalat berjamaah di rumah-rumah Allah yang berada di lingkungan
mereka. Amien!

Nov
24

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.