Muhammad Martin
Ahli Dzikir, Ahli Fikir, Ahli Ikhtiar

Air Mata Yang Tak Terbendung

Malam itu saya kedatangan seorang ibu. Ibu itu bertutur dengan air
mata yang sudah tak terbendung lagi. Dia menceritakan bahwa dirinya
pernah memiliki dua anak laki-laki yang ditinggal bapaknya waktu masih
bayi. Anak-anaknya tumbuh dengan kondisi memprihatinkan dan nakalnya
luar biasa.

“Sampai satu hari mas” kata sang ibu dengan bercucuran air mata. “Saya
membawa kedua anak itu kekuburan bapaknya dan saya katakan, Pak. Nih
urus anak-anakmu. Aku sudah tidak sanggup lagi.” Kata sang ibu.
Seminggu kemudian dua anaknya meninggal dunia karena sakit.

“Ya Alloh, Ya Robbi” tak terasa kata-kata itu terucap. Kisah itu
terasa menyayat dihati. Seolah mengiris lubuk hati yang paling dalam,
membayangkan betapa berat beban seorang ibu yang mengurus dua anak
yatim sampai pada satu titik ketidaksanggupan.


“Adapun terhadap anak-anak yatim maka janganlah kamu bersikap kasar
terhadapnya dan adapun orang yang meminta-minta maka janganlah engkau
usir dan adapun nikmat Tuhanmu hendaklah engkau sebutkan sebagai
perwujudan syukur. (Surah Adh Dhuha Ayat 9-11).

No Responses ke “Air Mata Yang Tak Terbendung”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.